Posts

Showing posts from June, 2018

Orang-orang penting.

Saya pernah tinggal di kota orang. Merasakan bagaimana nikmatnya punya waktu sendiri, memulai sesuatu yang baru sendiri, mengurus diri sendiri. Tapi, sebenarnya, saya tidak sendiri. Ada orang-orang penting, yang mengisi hari-hari waktu itu. Masa remaja saya dimulai dengan tinggal bersama induk semang. Memasuki zona di mana saya bersemangat dalam mengeksplorasi diri, saya diharuskan tinggal berjauhan dengan orang tua. Semua sangat rumit di awal, sampai dulu saya sempat berpikir bahwa keputusan ini sangat terkutuk dan membebani hidup. Untuk sekadar cari makan pun (waktu itu teknologi bernama gofood belum ditemukan), saya harus berpikir keras, karena biasanya semua sudah tersedia di meja makan. Untuk urusan pakaian, saya harus pintar-pintar cari waktu agar seragam kering pada waktunya. Semua terasa begitu berat, membagi waktu antara mengurus urusan sekolah dan pribadi.  Benar, dahulu sebegitu lemahnya mental saya. Sering saya rasakan yang namanya homesick. ...

Kembali lagi.

Kemarin, saya kembali. Kembali ke tempat di mana saya merasakan masa kecil. Kota kelahiran saya, yang membuat saya tidak lupa bahwa ada darah sunda mengalir dalam tubuh. Kota Bogor, di Jawa Barat. Cukup dingin, sering hujan—bahkan hampir setiap hari. Banyak perubahan setelah saya pergi selama lima tahun tentunya. Mal, hotel, kafe, tersebar di setiap sudut kota. Hanya satu yang tidak pernah berubah, kemacetannya. Saya menyusuri jalan dengan langit mendungnya saat itu. Pertanda bahwa kota ini akan membuktikan bahwa julukan yang melekat padanya adalah benar. Akhirnya, hujan turun seperti dugaan, lumayan deras. Saya memerhatikan semua orang sudah siap dengan jas hujan. Ojek payung dimana-mana. Banyak barisan orang menunggu di depan pusat perbelanjaan, halte, ada juga yang berlari-lari menuju kendaraan masing-masing. Semua berlindung, menunggu reda. Apa yang saya lihat, semuanya seakan melempar saya pada masa itu. Di mana saya yang dulu selalu membawa jas hujan merah mud...

Sebaik-baiknya rencana, paling baik adalah rencana dari Sang Perencana.

Dilema terberat yang pernah dialami sampai umur 17 tahun ini adalah dilema penghujung Sekolah Menengah Atas. Di tahun terakhir, persaingan demi menuju tahap selanjutnya lebih menegangkan. Persaingan dengan orang lain dan ego diri sendiri. Cerita ini saya persembahkan untuk semua keringat teman-teman seperjuangan. Sebelumnya, saya berterima kasih kepada Yang Maha Pengasih karena telah memberikan kesempatan untuk sekadar mengisi data di laman SNMPTN, jalan tol katanya. Setidaknya, saya masih diizinkan merasakan bagaimana rasanya berharap dan berdoa sekuat-kuatnya. Merasakan bagaimana dinginnya tangan ketika bersiap-siap menunggu jam 5 sore. Bersujud sedemikian rupa, demi adanya keajaiban agar sekolah saya kembali mendapatkan golden ticket, terutama dari Depok. Hari itu, 17 April 2018, hari yang sangat sakral untuk kami sebagai 'yang mengharapkan jalan tol' tadi. Saya membuka dengan hati-hati, dan penuh pengharapan. Saya siapkan seluruh amunisi, mulai dari mental sampai do...

Lembar baru.

Saya terjebak dalam perangkap tahun senior. Tahun yang katanya penuh jatuh bangun, dan memang benar adanya. Ah, ditambah tahun penuh pengharapan juga. Selamat datang lagi, semoga masih bisa punya waktu untuk sekadar bercerita di laman ini. Tandanya masih ada saat untuk melaksanakan waktu yang berkualitas bersama diri sendiri. Selamat menjadi unggahan pertama, untuk cerita lama yang tiba-tiba menghilang, lebih enak dibaca di draft , sendiri.