Orang-orang penting.
Saya pernah tinggal di kota orang.
Merasakan bagaimana nikmatnya punya waktu sendiri, memulai sesuatu yang baru sendiri, mengurus diri sendiri.
Tapi, sebenarnya, saya tidak sendiri.
Ada orang-orang penting, yang mengisi hari-hari waktu itu.
Masa remaja saya dimulai dengan tinggal bersama induk semang.
Memasuki zona di mana saya bersemangat dalam mengeksplorasi diri, saya diharuskan tinggal berjauhan dengan orang tua.
Semua sangat rumit di awal, sampai dulu saya sempat berpikir bahwa keputusan ini sangat terkutuk dan membebani hidup.
Untuk sekadar cari makan pun (waktu itu teknologi bernama gofood belum ditemukan), saya harus berpikir keras, karena biasanya semua sudah tersedia di meja makan.
Untuk urusan pakaian, saya harus pintar-pintar cari waktu agar seragam kering pada waktunya.
Semua terasa begitu berat, membagi waktu antara mengurus urusan sekolah dan pribadi.
Benar, dahulu sebegitu lemahnya mental saya.
Sering saya rasakan yang namanya homesick.
Ketika untuk pulang pun dihadang oleh urusan organisasi, atau sekadar tugas kelompok.
Ketika untuk pulang pun dihadang oleh jam tambahan belajar di bimbel sebelah.
Lambat laun, saya dapat menikmati ritmenya, karena mereka.
Orang-orang penting, yang membuat saya lebih dewasa dan tau bagaimana seharusnya menjalani hidup.
Orang-orang penting di sini, yang tentunya tidak bisa saya sebutkan satu-satu, adalah benar-benar penyelamat hidup saya di kota orang.
Terdengar dramatis, tapi saya rasa, saya perlu mengucapkan itu atas segala kontribusi mereka dalam cerita hidup saya selama merantau.
Mereka adalah teman-teman saya.
Bahkan, lebih tepatnya, keluarga saya.
Orang-orang penting ini lah yang selalu siap 24/7 atas segala ocehan.
Yang selalu menyediakan pundak saat kecewa.
Yang selalu ikut bahagia atas pencapaian.
Yang selalu menemani kala saya butuh teman minum kopi.
Dan tentunya, yang selalu sigap menjadi orang tua ketika saya tumbang karena sakit.
Banyak cerita saya dengan mereka yang mungkin akan diceritakan di unggahan lain.
Untuk kali ini, saya hanya dapat mengucapkan terima kasih setulus-tulusnya.
Sekarang,
di kampung halaman, saya bercerita sambil mengingat,
bagaimana bersyukurnya saya bisa mengenal kalian.
Comments
Post a Comment