Kembali lagi.
Kemarin, saya kembali.
Kembali ke tempat di mana saya merasakan masa kecil.
Kota kelahiran saya, yang membuat saya tidak lupa bahwa ada darah sunda mengalir dalam tubuh.
Kota Bogor, di Jawa Barat.
Cukup dingin, sering hujan—bahkan hampir setiap hari.
Banyak perubahan setelah saya pergi selama lima tahun tentunya.
Mal, hotel, kafe, tersebar di setiap sudut kota.
Hanya satu yang tidak pernah berubah, kemacetannya.
Saya menyusuri jalan dengan langit mendungnya saat itu.
Pertanda bahwa kota ini akan membuktikan bahwa julukan yang melekat padanya adalah benar.
Akhirnya, hujan turun seperti dugaan, lumayan deras.
Saya memerhatikan semua orang sudah siap dengan jas hujan.
Ojek payung dimana-mana.
Banyak barisan orang menunggu di depan pusat perbelanjaan, halte, ada juga yang berlari-lari menuju kendaraan masing-masing.
Semua berlindung, menunggu reda.
Apa yang saya lihat, semuanya seakan melempar saya pada masa itu.
Di mana saya yang dulu selalu membawa jas hujan merah muda, berlari-lari karena takut tidak mendapat angkot untuk pulang.
Di mana saya selalu takut kalau-kalau sepatu basah dan besok harus dipakai.
Di mana saya selalu takut tas saya terendam air, padahal ada buku catatan untuk persiapan ulangan besok.
Dulu, ketakutan saya hanya sebatas itu.
Dulu, hidup belum sekompleks hari ini.
Sejenak saya menyadari, waktu berjalan begitu cepatnya.
Meninggalkan kenyataan bahwa masalah semakin rumit.
Dulu, di kota ini, saya ingin cepat dewasa.
Sekarang, di kota ini lagi, saya malah takut karena telah dewasa.
Terdengar begitu lemah, tapi benar adanya.
Saya senang kembali lagi.
Kembali lagi ke kota ini, tapi tidak untuk kembali lagi ke waktu itu.
Memang dulu lebih mudah, tapi hidup adalah tentang cerita prosesnya.
Kalau ketakutan saya hanya sebatas takut terciprat air hujan oleh mobil yang lewat, saya tidak akan berkembang.
Hidup jauh lebih terkesan jahat dari sekadar mobil yang mengotori seragam anak sekolah dasar.
Selamat menuju dewasa, generasi tahun 2000.
Kembali ke tempat di mana saya merasakan masa kecil.
Kota kelahiran saya, yang membuat saya tidak lupa bahwa ada darah sunda mengalir dalam tubuh.
Kota Bogor, di Jawa Barat.
Cukup dingin, sering hujan—bahkan hampir setiap hari.
Banyak perubahan setelah saya pergi selama lima tahun tentunya.
Mal, hotel, kafe, tersebar di setiap sudut kota.
Hanya satu yang tidak pernah berubah, kemacetannya.
Saya menyusuri jalan dengan langit mendungnya saat itu.
Pertanda bahwa kota ini akan membuktikan bahwa julukan yang melekat padanya adalah benar.
Akhirnya, hujan turun seperti dugaan, lumayan deras.
Saya memerhatikan semua orang sudah siap dengan jas hujan.
Ojek payung dimana-mana.
Banyak barisan orang menunggu di depan pusat perbelanjaan, halte, ada juga yang berlari-lari menuju kendaraan masing-masing.
Semua berlindung, menunggu reda.
Apa yang saya lihat, semuanya seakan melempar saya pada masa itu.
Di mana saya yang dulu selalu membawa jas hujan merah muda, berlari-lari karena takut tidak mendapat angkot untuk pulang.
Di mana saya selalu takut kalau-kalau sepatu basah dan besok harus dipakai.
Di mana saya selalu takut tas saya terendam air, padahal ada buku catatan untuk persiapan ulangan besok.
Dulu, ketakutan saya hanya sebatas itu.
Dulu, hidup belum sekompleks hari ini.
Sejenak saya menyadari, waktu berjalan begitu cepatnya.
Meninggalkan kenyataan bahwa masalah semakin rumit.
Dulu, di kota ini, saya ingin cepat dewasa.
Sekarang, di kota ini lagi, saya malah takut karena telah dewasa.
Terdengar begitu lemah, tapi benar adanya.
Saya senang kembali lagi.
Kembali lagi ke kota ini, tapi tidak untuk kembali lagi ke waktu itu.
Memang dulu lebih mudah, tapi hidup adalah tentang cerita prosesnya.
Kalau ketakutan saya hanya sebatas takut terciprat air hujan oleh mobil yang lewat, saya tidak akan berkembang.
Hidup jauh lebih terkesan jahat dari sekadar mobil yang mengotori seragam anak sekolah dasar.
Selamat menuju dewasa, generasi tahun 2000.
Comments
Post a Comment